Pasti kalian tahu bagaimana nikmatnya jadi diri sendiri. Kalian juga pasti tahu bagaimana nikmatnya tertawa lepas saat kalian bersama orang-orang yang kalian sayangi dan cintai.
Tapi tahukah kalian bagaimana rasanya saat keadaan itu berbalik? Tahukah kalian saat semua rasa itu membeku ditelan kemunafikan? Saat kalian dituntut menjadi dewasa dan meninggalkan semua makna kekonyolan itu? Pernahkah kalian dalam posisi itu? Haruskah dewasa seperti itu?
Terkadang aku memikirkan bagaimana jika aku terus dituntut seperti ini? Dewasakah aku atau terlihat bodohkah aku? Aku pikir ini hal gila! Kau harus menjadi orang munafik di tempat yang seharusnya kau menjadi dirimu sendiri. Kau berlagak tenang, kau berlagak idealis padahal dalam hati kau menangis menginginkan keadaan bebas. Apakah ini adil?
Sadarkah kalian bahwa ini semua bernama tuntutan kemunafikan? Di sini aku dituntut menjadi seorang yang munafik. Aku harus menahan tawa saat kejadian lucu melintas. Aku menjadi tegak, membeku, dan terlihat seperti orang bermuka masam.
Aku tak ingin seperti ini. Namun, nampaknya keadaan mengajariku bahwa kedewasaan menuntut siapa saja. Tapi, haruskah kedewasaan menyekat kebahagianku untuk tertawa lepas dengan orang terdekatku? Ya, nampaknya ini memang sebuah siklus hidup. Ada saat di mana kau sudah melewati siklus kanak-kanak dan ada pula saatnya kau harus menjadi dewasa. Aku tak ingin memaksakan diri untuk menjadi dewasa. Aku ingin menikmati prosesnya tanpa dipaksa.
Jika waktu bisa berputar ulang, aku ingin waktu membawaku ke masa kanak-kanakku. Masa di mana aku merasakan kebahagiaan tanpa sekat dan aturan. Tanpa tuntutan dan tanpa paksaan.
Waktu, mengertilah.. Aku hanya ingin menjadi seorang yang dewasa ketika ada seseorang benar-benar mampu mengajariku menjadi seorang yang dewasa. Mungkin dia pasangan hidupku. Kelak...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar