Hai hati, apa kabar? Apakah kau baik-baik saja? Kemarin aku mengetuk pintu rumahmu, tetapi mengapa tak kau bukakan? Apakah kau masih merasa sakit? Kemarin penjaga pintumu memberitahuku bahwa dirimu masih dalam keadaan sakit. Sakit berkepanjangan karena aku. Maafkan aku hati.
Aku tak menyadari bahwa kau sakit saat otakku memikirkan dia. Kau sakit saat mataku terus memandangi dia. Dan kau sangat sakit saat aku terus meratap kepergiannya.
Hati, maafkan aku yang terus mengabaikanmu. Mataku buta saat otakku terus berharap bahwa keadaan ini akan membaik. Aku terus mengabaikanmu dan membuatmu terluka.. Tak kusangka keadaan ini terus membuatmu rapuh dan terkulai.
Hati, saat ini aku sudah pulih. Saat ini logikaku sudah kembali. Aku sudah tersadar bahwa aku tak pantas terus membuatmu terluka walaupun dialah yang seharusnya kusuruh membayar semua lukamu. Hati, maukah kau memaafkanku? Maukah kau berdamai denganku? Dan maukah kau menyatu dengan logika baruku ini?
Hati, tolong buka pintumu. Aku membawa segenggam obat untukmu. Obat dari negeri jauh yang kupesan dari Tuhan. Obat yang telah lama kunantikan. Obat yang telah lama Tuhan simpan sampai aku siap menerimanya. Obat ini dinamai-Nya "Kebahagiaan." Obat ini yang seharusnya telah kuberikan padamu sejak dulu. Obat ini membawa secercah harapan untuk ruangmu yang kosong. Obat ini yang telah mampu mebuatku kembali tersenyum. Obat ini nampaknya serasi denganmu. Lihatlah, aromanya membawa warna terang untuk ruangmu. Aroma tubuhnya melukiskan warna langit yang sore dan cerah. Tuhan berkata bahwa aroma obat ini bernama "Cinta Baru." Jaga dia baik-baik. Kutitipkan dia di dalam ruangmu agar aromanya mampu menyembuhkanmu dari keterpurukan luka lamamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar