Dulu
cintaku padamu penuh deklaratif. Cinta yang tak pernah menuntut banyak hal dan
cinta yang selalu menerima dirimu apa adanya. Cinta tak bersyarat yang
kucurahkan setulus hatiku padamu. Tapi.. semuanya sirna! Sirna saat kau memberi deklaratif hatimu pada “dia.”
Dia, sesorang yang tak asing bagimu. Dia yang nampaknya dulu lebih membuatmu
bahagia dari pada saat ini kau bersamaku. Dia yang dulu lebih memberikanmu
warna biru disetiap harimu.
Sekarang
aku hanya bisa terdiam. Terdiam menangis pilu. Ingin rasanya kuhapuskan
deklaratif itu dari list perjalanan
cinta kita. Ingin rasanya kuhapuskan ruang indah penuh warna biruku dari
hatimu. Sekarang ruang itu sudah berubah menjadi warna hitam, tertoreh nila
setitik yang membangkitkan kepiluan.
Apakah
kau menyadarinya? Apakah kau memikirkannya? Apakah kau menangisinya? Ataukah kau
melupakan dan menertawakannya? Kini semuanya menjadi interogatif. Ya! Cinta
deklaratifku berubah menjadi cinta interogatif. Cinta deklaratifku tak seindah
maknanya dulu. Dan semua berubah saat kunyatakan cintaku di ambang batas
deklaratif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar