Jumat, 02 November 2012

Cinta di Ambang Batas Deklaratif

Dulu cintaku padamu penuh deklaratif. Cinta yang tak pernah menuntut banyak hal dan cinta yang selalu menerima dirimu apa adanya. Cinta tak bersyarat yang kucurahkan setulus hatiku padamu. Tapi.. semuanya sirna!  Sirna saat kau memberi deklaratif hatimu pada “dia.” Dia, sesorang yang tak asing bagimu. Dia yang nampaknya dulu lebih membuatmu bahagia dari pada saat ini kau bersamaku. Dia yang dulu lebih memberikanmu warna biru disetiap harimu.
Sekarang aku hanya bisa terdiam. Terdiam menangis pilu. Ingin rasanya kuhapuskan deklaratif itu dari list perjalanan cinta kita. Ingin rasanya kuhapuskan ruang indah penuh warna biruku dari hatimu. Sekarang ruang itu sudah berubah menjadi warna hitam, tertoreh nila setitik yang membangkitkan kepiluan.
Apakah kau menyadarinya? Apakah kau memikirkannya? Apakah kau menangisinya? Ataukah kau melupakan dan menertawakannya? Kini semuanya menjadi interogatif. Ya! Cinta deklaratifku berubah menjadi cinta interogatif. Cinta deklaratifku tak seindah maknanya dulu. Dan semua berubah saat kunyatakan cintaku di ambang batas deklaratif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar